sharing

TIGA KECERDASAN YANG MENYATU

Mendefinisikan intelegensi bukan sebuah hal yang mudah seperti mendefinisikan kepribadian. Banyak tokoh yang mencoba mendefinisikannya, namun kali ini saya mengangkat intelegensi yang disampaikan oleh tokoh yang bernama Howard Gardner. Dalam teorinya, Gardner mengemukakan bahwa intelegensi seseorang tidak hanya ditentukan oleh satu faktor yang kita kenal sebagai “G Factor.” Faktor G lebih menitikberatkan kepada sisi kognitif. Gardner sendiri mengemukakan teorinya pada tahun 1983 melalui bukunya yang berjudul “Frames of Mind” dimana ia mengemukakan definisi kecerdasan secara lebih luas dan menguraikannya menjadi beberapa jenis intelektual yang berbeda. Dia menulis bahwa kita semua memiliki kecerdasan majemuk / Multiple Intelligences namun tingkatannya berbeda – beda pada setiap individu.

Gardner (1983) Berikut ini adalah kedelapan kecerdasan majemuk beserta contoh – contoh profesi dan tokoh yang mempunyai jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner :

  1. Visual spatial intelligence (Kecerdasan visual spasial)

Tokoh : Frank Lloyd Wright dan Amelia Earhart

Profesi : Pelaut, pilot, ahli bedah, arsitek, ahli dekorasi, desainer interior

  • Verbal linguistic intelligence (Kecerdasan verbal linguistik)

Tokoh : William Shakespeare dan Oprah Winfrey

Profesi : Sastrawan, penulis, orator, ahli komunikasi, pengacara, jurnalis, kurator

  • Bodily kinesthetic intelligence (Kecerdasan gerak tubuh)

Tokoh : Michael Jordan dan Simone Biles

Profesi : Penari, atlit, pemahat, tukang kayu, ahli terapi fisik

  • Logical Mathematical intelligence (Kecerdasan matematika logis)

Tokoh : Albert Einstein dan Bill Gates

Profesi : Akuntan, Matematikawan, ahli statistik, analis komputer, scientist

  • Interpreter/Rhtymic intelligence (Kecerdasan musik/ritmik)

Tokoh : Beethoven dan Ed Sheeran

Profesi : Musisi, penyanyi, komposer, discjokey (DJ)

  • Intrapersonal intelligence (Kecerdasan intrapersonal)

Tokoh :  Aristotle dan Maya Angelou

Profesi : konselor, enterpreneur, ahli terapi, klerus/pendeta

  • Interpersonal intelligence (Kecerdasan interpersonal)

Tokoh : Mahatma Gandhi dan Mother Teresa

Profesi : Guru, Psikolog, manajer, ahli marketing, humas

  • Naturalistic intelligence (Kecerdasan naturalistik)

Tokoh : Charles Darwin dan Jane Goddall

Profesi : ahli botani, ahli biologi, pakar geologi, pakar astronomi, pakar meteorologi

            Sebagian bersar pakar psikometri menyanggah teori kecerdasan majemuk ini dengan alasan tidak ada bukti empiris untuk memvalidasi mengenai teori kecerdasan majemuk (Waterhouse, volume 41 2016). Teori kecerdasan Gardner sebenarnya melibatkan faktor G dan non faktor G . Teori Gardner menempati ranking kedua atau ketiga setelah teori “ G Factor” (Visser, 2006).

            Terlepas dari semua kritik yang ada, Gardner mengemukakan bahwa teori kecerdasan majemuknya banyak digunakan dibidang pendidikan dan dapat dimanfaatkan oleh para pendidik dalam menerapkan bersama siswanya. Dampak terpenting dari teori kecerdasan majemuk khususnya dibidang pendidikan adalah pluralisasi dan individuasi, dimana setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya dan tidak ada alasan logis untuk mengajar atau menilai siswa secara identik. Dengan menerapkan teori kecerdasan majemuk maka akan mengarahkan baik siswa maupun guru menghargai setiap pandangan, pendapat, cara yang berbeda. Hal tersebut mampu membantu mengakomodasi setiap siswa dan mendorong mereka untuk dapat berpikir dari berbagai sudut pandang. Di era abad 21 ini teori kecerdasan majemuk sangat relevan dan hal ini didukung dengan kemajuan teknologi dimana semua akses informasi mudah didapatkan dan diolah secara bersama guna memperkaya pemikiran baik siswa maupun guru. Dengan menerapkan teori kecerdasan majemuk ini, pendidik dalam hal ini guru tidak bisa melabel siswa hanya dari satu kecerdasan namun harus melihatnya secara holistik dan hal ini membantu guru dalam menumbuhkembangkan potensi setiap siswa yang diajar.

            Setelah kita melihat pemaparan tentang kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner, timbul pertanyaan baru “Manakah yang terpenting dalam menentukan kesuksesan seseorang, apakah IQ, EQ atau SQ ?”

            Penulis membagikan sebuah cerita kecil tentang respon orangtua terhadap kedua anaknya. Tokoh kedua anak didalam cerita ini hanyalah fiktif belaka yaitu Andi dan Beni. Mereka berdua bersekolah di SMP ABC yang berbasis agama tertentu, Andi kelas 9 dan Beni kelas 7. Kelebihan Andi adalah dijuluki sebagai genius boy oleh teman – temannya karena ia memang pandai secara akademik dibidang matematika dan IPA. Sementara adiknya Beni terkenal dengan nama pebasket tangguh. Beni adalah olahragawan khususnya pada olahraga basket. Ada dua perbedaan dari kedua kakak beradik ini. Andi adalah siswa pintar secara akademis dan Beni adalah siswa yang ahli didalam olahraga basket. Perbedaan keduanya sangat signifikan, Andi yang pintar mempunyai kekurangan dalam situasi lain, dia dikenal sebagai anak yang kuper alias kurang pergaulan. Andi mengalami hambatan dalam berkomunikasi dan ketika ia berkomunikasi kesannya menjadi aneh dan mengarah kepada sikap tinggi hati serta hitungan mengenai uang. Sementara adiknya Beni adalah seorang pribadi yang luwes, mempunyai banyak teman namun dia kurang pandai dibidang akademis. Dengan adanya kedua perbedaan ini maka ada inisiatif dari kedua walikelas bersama guru BK untuk mengadakan tes dan konseling terhadap keduanya.

Melihat tes IQ keduanya terlihat perbedaan nilai walaupun tidak terlalu jauh, memang IQ Andi diatas IQ Beni namun keduanya bukan kategori anak yang IQ nya rendah. Dari sini sekolah melakukan konseling terhadap keduanya ternyata terdapat fakta baru bahwa orangtua memperlakukan mereka secara berbeda. Jika Andi menang lomba matematika atau IPA maka orangtua memberikan reward karena Andi menyetor uang hasil lomba kepada orangtuanya. Sementara jika Beni yang menang lomba basket, dia hanya diberikan jawaban dingin dari orangtua. Pakaian dari keduanya juga berbeda merk, Andi merk mahal sementara Beni merk murah. Dari kedua anak ini kita bisa melihat bahwa Andi ’dieksploitasi’ oleh ambisi orangtua yang berbangga dengan prestasi anak dan penghasilan dengan dalih ‘mumpung anakku pintar.’ Sementara adiknya hanya dianggap biasa saja sehingga Beni mencari pihak yang bisa menerima dirinya yaitu teman-temannya dengan cara menjadi pribadi yang luwes, pandai bergaul walaupun akademisnya kurang baik.

Mengutip dari pernyataan bapak pendidikan karakter dunia yang bernama Thomas Lickona dikatakan bahwa tujuan pendidikan bukanlah sekedar anak jadi pintar, lulus atau diterima kerja di tempat terhormat dan berkelas namun ada dua sisi yang menjadi kunci yaitu anak dididik untuk menjadi pintar namun perlu menjadi baik, “to be smart and to be good.” Seorang pakar EQ yang bernama Anthony Dio Martin dalam bukunya yang berjudul “Ketika pintar saja tidak cukup” mengatakan bahwa untuk membangun generasi yang sukses diperlukan BBM. Arti dari BBM sendiri adalah berkarakter, bahagia dan mulia. Berkarakter disini memuat enam pilar penting yang harus dibangun pada diri seorang anak yaitu dapat dipercaya, bertanggungjawab, respek, sportif, peduli, cinta tanah air. Sementara Bahagia menitikberatkan bukan pada pencapaian prestasi, sukses atau sejenisnya namun lebih kepada mengarahkan anak untuk mempunyai vibrasi yang positif dalam segala hal, penuh rasa syukur, memiliki penerimaan diri yang penuh. Dan mulia mengarahkan anak untuk memiliki mental yang berdampak bukan hanya kepada dirinya namun orang lain dan melakukan hal – hal yang bersifat mulia dan berlandaskan keimanan. Keimanan disini lebih mengarah nantinya kepada SQ dimana anak memliki hati yang terbuka, pedoman terhadap nilai agama, kearifan lokal termasuk kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya bukanlah sebuah kebetulan. Kesadaran ini perlu diiingatkan terus menerus agar semakin hari anak semakin mengintegrasikan tentang hidup untuk kemuliaan-Nya.

Dari cerita di atas dan pembahasan yang dilakukan, penulis memiliki kesimpulan bahwa baik IQ, EQ dan SQ seyogyanya tidak ada yang berdiri sendiri ataupun menonjol pada salah satu kecerdasan. Diperlukan keseimbangan yang saling berkelindan diantara ketiganya sehingga kecerdasan yang ada pada diri anak untuk sebuah kesuksesan akan bersifat menyeluruh dan berdampak positif bukan hanya untuk dirinya namun sesamanya termasuk alam semesta.  

Daftar Pustaka

Beth A. Visser, M. C. (2006). G and the measurement of Multiple Intelligences:. Intellegence, 507 – 510.

Edutopia. (2013, March 8). Multiple Intelligences: What Does the Research Say? . https://www.edutopia.org/multiple-intelligences-research.

Gardner, H. E. (2000). Frames of Mind: Multiple intelligences for the 21st century. Hachete UK: Basic Books.

Goelman, D. (1995). Emotional Intellegence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jamaris, M. (2013). Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Bogor: Penerbit Ghalia.

Martin, A. D. (2019). Ketika pintar saja tidak cukup. Jakarta: Elex media komputindo.

Psychology, S. (2020, June 9). Gardner’s Theory of Multiple Intelligences. https://www.simplypsychology.org/multiple-intelligences.html.

Waterhouse, L. (Volume 41 2006). Multiple Intelligences, the Mozart Effect, and Emotional Intelligence: A Critical Review. Educational Psychologist, 207 – 225.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.