sharing

Hikmah pembelajaran yang aku ambil dari corona dan ketidakpastian

Tulisan saya dibawah ini sudah saya upload di KOMPASIANA hari ini Kamis 28 Mei 2020. Terima kasih.

Tahun 2020 merupakan tahun yang luar biasa untuk saya dan keluarga. Di awal tahun, kami dilanda yang namanya banjir Jakarta sebanyak 4 kali dan semuanya masuk ke dalam rumah. Awalnya saya sangat kesal dan menyalahkan kenapa dulu sudah tidak banjir sekarang banjir lagi. Tidak lama berselang, Indonesia khususnya Jakarta dikejutkan dengan virus dahsyat yang bernama corona. Media – media baik cetak maupun elektronik mengatakan bahwa corona tidak akan masuk Indonesia pada awal kemunculan berita tersebut. Akhirnya selamat datang virus corona atau covid 19. Saya yang berprofesi seorang Guru akhirnya work from home (WFH) atau tepatnya teaching from home (TFH). Disini saya dan mungkin juga kebanyakan pihak marah, kesal dan menyalahkan kenapa begini dan begitu serta dihadapkan berbagai pertanyaan “bagaimana”.  Kenapa saya bilang pertanyaannya bagaimana ? Karena saya pribadi bertanya bagaimana kalau kemungkinannya ini, itu dan segala teori kemungkinan yang tidak jelas di kepala saya.

Kejadian – kejadian di atas suka tidak suka, mau tidak mau akhirnya harus dihadapi. Sebelum saya melanjutkan tulisan saya ini, ijinkan saya mengingat kembali sebuah peristiwa mengenai kejadian lama kurang lebih begini ceritanya. Sekian tahun yang lampau, saya sempat mengusulkan beberapa ide khususnya mengenai pemelajaran online atau daring (dalam jaringan) namun saat itu singkat kata ide saya tidak didengar oleh pihak terkait khsususnya di dunia pendidikan. Kalau saat itu sudah ada MEME “disini kadang saya merasa sedih” maka itulah yang saya rasakan. Namun the show must go on bukan, saya tetap pada pendirian saya untuk mengembangkan ide saya itu setahap demi setahap sampai muncul website pribadi saya dan tentunya dibantu alumni alias murid – murid saya dulu. Banjir datang, corona datang dan banyak profesi termasuk Guru dituntut untuk online / daring. Berjibakulah saya dan mungkin juga kita semua untuk mempersiapkannya.  Seiring berjalannya waktu masih ada rasa yang saya sebut kesombongan diri, kenapa saya mengatakan kesombongan diri ? Karena sempat terbersit dipikiran saya seperti ini “apa gue bilang, sekarang mau ga mau online khan.

Segala upaya saya coba dalam TFH ini, dimulai dari membuat materi di powerpoint, belajar recording, belajar mengajar dengan media seperti googlemeetyoutubegoogleclassroommoodle, dan media lainnya. Disini saya trial error alias coba – coba dan tujuannya satu yaitu supaya bisa menyampaikan ilmu ini kepada siswa – siswi yang saya ajar dibidang Matematika. Apakah mudah dan mulus gaes ? Jawabannya adalah JELAS, jelas tidak gaes. Kalau mau diceritakan kendalanya pasti banyak dan saya tidak mau berbangga dengan itu karena diluar sana masih banyak rekan – rekan seprofesi saya yang lebih terkendala. So saya akan fokus ke solusinya saja ya. Setelah mencari pola, cara dan kemudahan akhirnya saya berada pada satu titik dimana saya sepakat dengan sebuah quote dari Voltaire yaitu “satu – satunya kepastian dalam hidup adalah ketidakpastian.” Bagaimana dengan solusinya? Jawabnya adalah selalu SIAGA terhadap perubahan yang ada.

Dilain pihak ketika saya berkontak kurang lebih 45 menit dengan seorang rekan seumuran saya yang menjadi pemuka agama melalui video call, beliau berkata kepada saya kurang lebih begini “Bro, pandemi ini sejatinya mengajarkan kita beberapa hal diantaranya tentang kualitas diri kita sebagai seorang pribadi ini seperti apa, kedua mengajarkan kita tentang siapa sesungguhnya teman kita termasuk orangtua kita ataupun atasan kita.” Sebenarnya ada beberapa lagi yang ingin saya sampaikan namun 2 point ini menurut saya sudah mewakili dan penting. Untuk point kedua silahkan anda yang menilai, saya lebih memilih ke pribadi saya pada point pertama karena menurut saya ini yang sering terlupakan dan menarik untuk disimak. Di awal cerita saya tadi yang ada adalah semua emosi negatif termasuk kesombongan diri. Melalui teman saya ini ndilalah kalau kata orang Jawa, saya diingatkan kembali untuk GO INSIDE!

Beruntung saya diingatkan untuk melihat kedalam diri saya (go inside) melalui rekan saya ini. Saya percaya ini bukan sebuah kebetulan dan entah mengapa saya merasa ada energi positif yang mendukung saya untuk melihat kedalam. Saya dipertemukan dengan tulisan, buku, video-video termasuk ceramah yang berkaitan dengan itu. Anda bisa mencari melalui googlesearch atau youtube atau media lainnya. Yang saya temukan justru kebanyakan bukan dari agama saya tapi dari ajaran agama lain, disini menarik karena ternyata ada benang merah yang saya dapatkan yaitu tujuannya semua agama itu BAIK cuma caranya yang berbeda. Secara tidak langsung saya belajar bahwa perubahan, perbedaan itu biasa tinggal bagaimana RESPON KITA.  Penting saya tekankan mengenai respon ini karena saya mengalaminya sendiri, ketika respon saya negatif seperti di awal cerita saya tadi yang ada hasilnya ya negatif dan destruktif. Namun ketika respon saya sebaliknya maka saya justru mendapat banyak masukkan, ide, pencerahan dan sejenisnya yang membuat kualitas diri saya berubah ke arah lebih positif dan lebih produktif.

Pengalaman kecil saya ini tentunya sekedar berbagi apa yang pernah saya alami dan mungkin anda alami. Sekarang saya berani mengatakan bahwa banjir, corona dan segala ketidakpastian adalah guru terbaik saya untuk menjadi pribadi dengan kualitas diri yang lebih baik. Semoga bermanfaat. Salam Bhinneka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.