sharing

WISUDA VIRTUAL KARENA PANDEMI

Tulisan di bawah ini sudah dimuat di laman kompasiana tepatnya disini linknya :

https://www.kompasiana.com/fransescorner/5ed1d77bd541df42204a70f2/wisuda-yang-tertunda-karena-pandemi

Selamat membaca semoga bermanfaat.

Setahun yang lalu dan juga tahun – tahun sebelumnya selalu diadakan wisuda kelas 9 dan sudah menjadi budaya dibanyak sekolah. Biasanya setelah para siswa menjalani serangkaian acara ujian dan berakhir dengan ujian nasional (UN) mereka akan dilepas sebagai seorang yang bernama alumni dari sekolah tempat saya mengajar. Acara ini juga biasanya dilakukan dibanyak sekolah baik tingkat dasar, menengah ataupun atas. Didalam acara wisuda biasanya panitianya terdiri dari para Guru, Orangtua, OSIS dan para pengisi acara yang umumnya berada di kelas 7 dan 8.

Setiap acara wisuda buat saya pribadi sebagai Guru merupakan acara yang mengharukan dan menjadi memori. Mengapa ? Karena setelah berdinamika bersama dan menjadi teman seperjalanan mereka selama 3 tahun normalnya, kini mereka akan melanjutkan ke tempat lain dan kami akan terpisah jarak, ruang dan waktu. Banyak kenangan indah dan mungkin juga pahit namun semuanya berujung menjadi sebuah kerinduan bagi kami semua khususnya saya.

Didalam acara wisuda biasanya ada momen-momen kebanggaan para Orangtua dan Guru ketika melihat para wisudawan kelas 9 masuk ruangan dengan iringan lagu latin berjudul Gaudeamus Igitur (arti menurut wikipedia “Karenanya marilah kita bergembira”).  Derap langkah dan senyuman para wisudawan sungguh mantap dan memiliki harapan baru serta semangat yang berkobar. Selain momen tersebut terdapat momen penyerahan siswa secara simbolis dari pihak sekolah kepada Orangtua yang menandakan bahwa tugas sekolah yang menjadi tempat pembentukan pribadi para siswa selama 3 tahun di SMP sudah selesai. Acara lain diisi dengan hiburan yang diisi oleh para siswa kelas 7 dan 8, di sekolah saya acara ini diisi dengan tari daerah, menyanyi lagu daerah, lagu rohani dan acara yang bersifat nasionalis. Perpaduan musik yang disuguhkan juga gabungan musik daerah seperti gamelan, kulintang dan musik modern. Hal ini memang menjadi kekuatan bagi sekolah di tempat saya mengajar. Anak – anak kami diperkenalkan dan diarahkan untuk berbangga dengan Indonesia yang beragam.

Sekitar 2 – 3 tahun terakhir ini ada yang baru dalam wisuda di sekolah saya ini, ada penampilan tambahan yaitu pemutaran video kaleidoskop perjalanan mereka selama 3 tahun di SMP. Video ini didalamnya memuat foto, video jaman mereka masih unyu – unyu terutama saat masa orientasi, Jambore Pramuka, field trip, retret dan tentunya acara live in. Ya sekolah kami mempunyai program unggulan yaitu live in atau tinggal bersama, tentunya bukan tinggal dengan orangtuanya namun orangtua asuh mereka di desa yang berada di Jawa Tengah. Perjalanan mereka kesana juga bukan menggunakan transportasi luxury namun mereka menggunakan kereta api kelas ekonomi class. Mengapa ? Pada bagian ini para siswa dihadapkan fenomena baru bahwa apapun yang dihadapi harus disyukuri walaupun itu diluar kebiasaan mereka, diluar kenyamanan mereka. Disini mereka diuji untuk menjadi pribadi yang bisa bekerja sama dengan temannya, pribadi yang peduli dengan sekelilingnya, pribadi yang tangguh untuk bisa menikmati disetiap keadaan. Saat mereka tiba di desa tujuan,mereka belajar bersosialisasi, unggah ungguh dan banyak hal bersama masyarakat desa yang beragam. Mereka juga belajar untuk keluar dari zona nyaman mereka sebagai anak kota menjadi anak desa yang semuanya seadanya dan serba terbatas. Pada pemutaran video ini juga di akhir selalu ditampilkan kembali peristiwa ketika mereka harus berpisah dengan orangtua asuh mereka di desa tersebut. Air mata, pelukan hangat mewarnai perpisahan kami semua. Hal ini juga dialami para Guru pendamping yang ada disana termasuk saya pribadi. Kami semua belajar banyak dari keberagaman yang ada dan bersyukur boleh berada disana.

Setelah pemutaran video kaleidoskop dilanjutkan dengan acara inti seperti sambutan-sambutan resmi, pengumuman kelulusan oleh Kepala Sekolah, pengalungan medali dan acara penyerahan bunga kepada Orangtua dan Guru. Semua acara tersebut tentunya tidak lepas dari peran OSIS dan perwakilan siswa – siswi kelas 7 dan 8. Para siswa tersebut merupakan ujung tombak dalam suksesnya acara tersebut selain pihak lain. Namun sekarang tahun 2020 dan para siswa yang tadinya kelas 8 di tahun lalu sekarang mereka adalah kelas 9 dimana seharusnya mereka adalah WISUDAWAN di tahun ini. Saya membayangkan perasaan mereka yang mungkin sudah menanti acara wisuda ini namun terbentur oleh keadaan dimana mereka harus diwisuda secara virtual. Memang sama – sama ada wisuda namun tidak bisa dipungkiri bahwa wisuda virtual itu rasanya beda dari wisuda yang real. Mengapa berbeda ? Euforianya akan terasa berbeda dan tidak greget. Biar bagaimanapun wisuda secara nyata akan lebih terasa di hati ketimbang di dunia maya. Dan sebagai Guru, ini kali pertama saya mengalaminya. Wong saya saja merasakan berbeda apalagi siswa saya yang mengalami diwisuda online ini. Tulisan ini saya buat bukan bermaksud macam – macam namun lebih sebagai refleksi personal seorang Guru yang mencoba memahami suasana batin para siswanya. Para wisudawan tahun ini kebanyakan selama 2 tahun mengisi dan membantu acara wisuda kakak kelasnya. Bagi yang tidak panitia biasanya juga ikut hadir karena penasaran acara wisuda seperti apa. Bagi yang bertugas juga sering membayangkan dan mungkin bergumam dalam hati “I will be there next year.” Tetapi sekali lagi situasi dan kondisi tidak memungkinkan wisuda angkatan ini terjadi secara nyata. Disini saya diingatkan sebuah pesan oleh seorang Pastur ketika saya berada di sebuah kapel yaitu “APAPUN KEADAANNYA, KAMU HARUS TETAP BERBUAT BAIK.” Awalnya saya menganggap kalimat itu hanya sebuah hal yang biasa saja, namun belakangan saya sadar dengan peristiwa yang saat ini dialami para wisudawan tahun ini yang selama 2 tahun membantu dan merindukan ingin diwisuda serta berkumpul bersama seluruh anggota civitas sekolah, harus mengalami kenyataan yang berbeda. Secara manusia pasti ada perasaan yang tidak nyaman namun sekali lagi “APAPUN KEADAANNYA, KAMU HARUS TETAP BERBUAT BAIK.” Selamat untuk seluruh siswa SMP yang dalam waktu dekat ini akan diwisuda secara virtual/online/daring. Saya bangga dengan kalian.

 

sharing

Hikmah pembelajaran yang aku ambil dari corona dan ketidakpastian

Tulisan saya dibawah ini sudah saya upload di KOMPASIANA hari ini Kamis 28 Mei 2020. Terima kasih.

Tahun 2020 merupakan tahun yang luar biasa untuk saya dan keluarga. Di awal tahun, kami dilanda yang namanya banjir Jakarta sebanyak 4 kali dan semuanya masuk ke dalam rumah. Awalnya saya sangat kesal dan menyalahkan kenapa dulu sudah tidak banjir sekarang banjir lagi. Tidak lama berselang, Indonesia khususnya Jakarta dikejutkan dengan virus dahsyat yang bernama corona. Media – media baik cetak maupun elektronik mengatakan bahwa corona tidak akan masuk Indonesia pada awal kemunculan berita tersebut. Akhirnya selamat datang virus corona atau covid 19. Saya yang berprofesi seorang Guru akhirnya work from home (WFH) atau tepatnya teaching from home (TFH). Disini saya dan mungkin juga kebanyakan pihak marah, kesal dan menyalahkan kenapa begini dan begitu serta dihadapkan berbagai pertanyaan “bagaimana”.  Kenapa saya bilang pertanyaannya bagaimana ? Karena saya pribadi bertanya bagaimana kalau kemungkinannya ini, itu dan segala teori kemungkinan yang tidak jelas di kepala saya.

Kejadian – kejadian di atas suka tidak suka, mau tidak mau akhirnya harus dihadapi. Sebelum saya melanjutkan tulisan saya ini, ijinkan saya mengingat kembali sebuah peristiwa mengenai kejadian lama kurang lebih begini ceritanya. Sekian tahun yang lampau, saya sempat mengusulkan beberapa ide khususnya mengenai pemelajaran online atau daring (dalam jaringan) namun saat itu singkat kata ide saya tidak didengar oleh pihak terkait khsususnya di dunia pendidikan. Kalau saat itu sudah ada MEME “disini kadang saya merasa sedih” maka itulah yang saya rasakan. Namun the show must go on bukan, saya tetap pada pendirian saya untuk mengembangkan ide saya itu setahap demi setahap sampai muncul website pribadi saya dan tentunya dibantu alumni alias murid – murid saya dulu. Banjir datang, corona datang dan banyak profesi termasuk Guru dituntut untuk online / daring. Berjibakulah saya dan mungkin juga kita semua untuk mempersiapkannya.  Seiring berjalannya waktu masih ada rasa yang saya sebut kesombongan diri, kenapa saya mengatakan kesombongan diri ? Karena sempat terbersit dipikiran saya seperti ini “apa gue bilang, sekarang mau ga mau online khan.

Segala upaya saya coba dalam TFH ini, dimulai dari membuat materi di powerpoint, belajar recording, belajar mengajar dengan media seperti googlemeetyoutubegoogleclassroommoodle, dan media lainnya. Disini saya trial error alias coba – coba dan tujuannya satu yaitu supaya bisa menyampaikan ilmu ini kepada siswa – siswi yang saya ajar dibidang Matematika. Apakah mudah dan mulus gaes ? Jawabannya adalah JELAS, jelas tidak gaes. Kalau mau diceritakan kendalanya pasti banyak dan saya tidak mau berbangga dengan itu karena diluar sana masih banyak rekan – rekan seprofesi saya yang lebih terkendala. So saya akan fokus ke solusinya saja ya. Setelah mencari pola, cara dan kemudahan akhirnya saya berada pada satu titik dimana saya sepakat dengan sebuah quote dari Voltaire yaitu “satu – satunya kepastian dalam hidup adalah ketidakpastian.” Bagaimana dengan solusinya? Jawabnya adalah selalu SIAGA terhadap perubahan yang ada.

Dilain pihak ketika saya berkontak kurang lebih 45 menit dengan seorang rekan seumuran saya yang menjadi pemuka agama melalui video call, beliau berkata kepada saya kurang lebih begini “Bro, pandemi ini sejatinya mengajarkan kita beberapa hal diantaranya tentang kualitas diri kita sebagai seorang pribadi ini seperti apa, kedua mengajarkan kita tentang siapa sesungguhnya teman kita termasuk orangtua kita ataupun atasan kita.” Sebenarnya ada beberapa lagi yang ingin saya sampaikan namun 2 point ini menurut saya sudah mewakili dan penting. Untuk point kedua silahkan anda yang menilai, saya lebih memilih ke pribadi saya pada point pertama karena menurut saya ini yang sering terlupakan dan menarik untuk disimak. Di awal cerita saya tadi yang ada adalah semua emosi negatif termasuk kesombongan diri. Melalui teman saya ini ndilalah kalau kata orang Jawa, saya diingatkan kembali untuk GO INSIDE!

Beruntung saya diingatkan untuk melihat kedalam diri saya (go inside) melalui rekan saya ini. Saya percaya ini bukan sebuah kebetulan dan entah mengapa saya merasa ada energi positif yang mendukung saya untuk melihat kedalam. Saya dipertemukan dengan tulisan, buku, video-video termasuk ceramah yang berkaitan dengan itu. Anda bisa mencari melalui googlesearch atau youtube atau media lainnya. Yang saya temukan justru kebanyakan bukan dari agama saya tapi dari ajaran agama lain, disini menarik karena ternyata ada benang merah yang saya dapatkan yaitu tujuannya semua agama itu BAIK cuma caranya yang berbeda. Secara tidak langsung saya belajar bahwa perubahan, perbedaan itu biasa tinggal bagaimana RESPON KITA.  Penting saya tekankan mengenai respon ini karena saya mengalaminya sendiri, ketika respon saya negatif seperti di awal cerita saya tadi yang ada hasilnya ya negatif dan destruktif. Namun ketika respon saya sebaliknya maka saya justru mendapat banyak masukkan, ide, pencerahan dan sejenisnya yang membuat kualitas diri saya berubah ke arah lebih positif dan lebih produktif.

Pengalaman kecil saya ini tentunya sekedar berbagi apa yang pernah saya alami dan mungkin anda alami. Sekarang saya berani mengatakan bahwa banjir, corona dan segala ketidakpastian adalah guru terbaik saya untuk menjadi pribadi dengan kualitas diri yang lebih baik. Semoga bermanfaat. Salam Bhinneka.